Rabu, 15 Juni 2011

pendidikan

Pendidikan Karakter

  1. pendidikan karakter Pendidikan KarakterPersoalan real yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana membentuk karakter bangsa (Nation Character Building). Bagaimana Nilai-nilai budaya banagsa yang telah mengakar kuat berhadapan dengan pusaran arus globalisasi yang demikian mengancam. Bagaimanapun juga khazanah keragaman budaya dan heterogenitas masyarakat Indonesia, di satu sisi merupakan keistimewaan namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran. Dalam diskursus pendidikan, hal tersebut harus dibahas, dan tidak dapat diabaikan begitu saja.
    Abd.Rachman Assegaf, mengemukakan bahwa: Diskursus pendidikan bukanlah merupakan suatu entitas yang berdiri sendiri, melainkan dikelilingi oleh entitas lain yang saling bersinergi. Problema sosial, politik, budaya, hukum, falsafah, ekonomi dan lain-lain merupakan entitas di luar pendidikan yang memiliki pengaruh interkonektif cukup intens terhadap pendidikan. (Mustofa Rembangy, Pendidikan Transformatif, Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta: Teras, 2008, h.xxiii)
    Dari sisi yang berbeda walau dengan perspektif yang sama dikemukakan oleh Suyanto bahwa icon biggrin Pendidikan Karakter i era global seperti saat ini dan masa yang akan datang, penguasaan teknologi informasi menjadi sangat penting bagi eksistensi suatu bangsa. Oleh karena itu, dilihat dari aspek pendidikan, era global berdampak pada cepat usangnya hardware dan software bidang pendidikan. Dengan demikian, sektor pendidikan harus diberdayakan setiap saat.(Suyanto, Dinamika Pendidikan Nasional Dalam Percaturan Global Dunia, Jakarta, PSAP Muhammadiyah, 2006, h. 15)
    Dari dua pandangan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan penting, bahwa di era globalisasi, pendidikan dan semua anasir-anasirnya, terutama kebudayaan, harus selalu berhubungan secara sinergis, dan untuk mencapai harmonisasi tersebut dibutuhkan penguasaan teknologi informasi yang up to date.
    Karena itu, fenomena multikulutralisme harus menjadi perhatian kebijakan pendidikan di Indonesia. Bahkan disebutkan bahwa upaya menggagas pendidikan yang berbasis multikulturalisme menjadi signifikan.
  2. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

    Inovasi pendidikan dalam rangka Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kebutuhan pendidikan yang sangat mendesak. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam Pengertian Implementasi kurikulum itu sendiri mengandung makna pelaksanaan kurikulum dalam arti yang seluas-luasnya meliputi, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kurikulum.
    Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dewasa ini seharusnya sudah dapat dievaluasi tingkat keberhasilan, kelebihan serta kekurangannya. Setelah KTSP ini berjalan sejak tahun 2006, tentu telah dapat diukur bagaimana implementasi kurikulum KTSP yang telah berjalan.
    Karena itu, para kepala sekolah, guru, dan semua stakeholder pendidikan memberikan perhatian yang serius terhadap pelaksanaan kurikulum sehingga kurikulum ini benar-benar dapat diandalkan mewujudkan tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
  3. Implementsi Kurikulum: Dedikasi dan Tanggung Jawab Guru

    Istilah Implementasi kurikulum pada dasarnya tidak hanya bermakna melaksanakan isi kurikulum sebagaimana yang tersurat dalam rumusan kurikulum, tetapi implementasi kurikulum sesungguhnya mencakup seluruh aspek dari setiap upaya guru di dalam melaksanakan kurikulum dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. “Implementasi kurikulum” harus dimaknai sebagai upaya yang bersifat komprehensip dalam kaitannya dengan mencapai tujuan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya.
    Jika seorang guru hanya memaknai implementasi kurikulum dalam kaitannya dengan menunaikan kewajiban mengajar di dalam kelas semata, maka pendidikan akan kehilangan makna dalam arti yang sesungguhnya. Hasil pendidikan akan sangat terbatas pada ranah yang sempit. Implementasi kurikulum yang demikian, hanya “sukses” menjadikan para peserta didik menguasai materi pelajaran saja. Di pihak lain, implementasi kurikulum gagal mencapai ranah-ranah lain yang sesungguhnya tidak boleh dipisahkan satu dengan lainnya.
    Pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum yang sempit menghasilkan pendidikan yang pincang. out put pendidikan hanya mencerminkan keberhasilan yang bertumpu pada “kecerdasan intelektual” semata. Akibatnya wajah pendidikan kita tidak menunjukkan suatu kondisi yang equilibrium antara ranah kognisi, afeksi dan psikomotorik pada diri peserta didik. Jika anda mencoba menganalisis situasi pendidikan kita sekarang…boleh jadi anda sependapat dengan saya. Karena itu, yang dibutuhkan dari guru adalah dedikasi dan tanggung jawab “moral” nya terhadap implementasi kurikulum yang equilibrium.
  4. Beberapa Landasan Pendidikan (3)

    Landasan Sosiologis dalam Pendidikan
    Pendidikan berlangsung dalam pergaulan antara pendidik dengan anak didik. Dapatnya anak didik bergaul karena memang; baik pendidik maupun anak didik adalah merupakan makhluk sosial,yaitu makhluk yang selalu saling berintegrasi, saling tolong menolong, salin gingin maju, ingin berkumpul, ingin menyesuaikan diri, hidup dalam kebersamaan dan lain sebagainya.
    Sifat sebagai makhluk sosial sudah dimiliki sejak bayi, dan tampaknya merupakan potensi yang dibawa sejaklahir. Bahwa manusia merupakan makhluk sosial karena beberapa faktor berikut:
    a. Sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya
    b. Sifat adaptability dan intelegensi
    Dengan demikian, manusia sebagai makhluk sosial, menjadikan sosiologi sebagai


    pixel Beberapa Landasan Pendidikan (3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pejuang kampus

pejuang kampus

lakers

lakers
tim favorite