Rabu, 18 Juli 2012

kenapa harus terjadi lagi

hari-hari indah yang pernah kita jalani selalu membekas. tawa canda, dan semua kegilaan kita. aq tau betapa jahatnya aq untuk menjauh darimu. tapi hanya ini yang bisa ku lakukan. sekarang aq bener-bener sadar betapa sayangnya aq me kamu (miss kerok) haha :'( . baru kali ini aq ngorbankan perasaan pai kayak gini, berat banget rasanya. hari ini kamu majangkan semua kemesraan mu dengan kekasihmu. itu yang ku takutkan. dari awal aq tau kau tak sendiri, dan aq fikir. kita hanya bisa jadi teman. tapi aq tak tau rasa itu muncul tanpa rencana dan planning. ini matahkan argumen mu. yang mengatakan cinta mas termasuk hal yang diplanning. haha....!!! jika suatu saat ndog baca postingan ini. ndog harus tau mas sayang sma ndog. mas lakuin ini untuk menghormati hubungan ndog me cow ndog. trimakasih untuk semuanya.... sayang ini mas simpan dan mas jaga. baik2 ya me co ndog...!! :)

Kamis, 05 Juli 2012

simpul yang terbakar

keindahan tatap mata sang dewa terbayang sudah akan terpaan angin miris. tumpukan merupakan simbol lepas dari keterpurukan dari jatuhnya sang pemilik tahta. berbagi singgasana atau memberikan singgasana? kala mata tertuju pada pemilik sayap indah dari surga, hati rasa terbawa terbang oleh kepakan indah sayapnya. memukau nan menyejukan mata. aq seraya berkata pada pendaping tempat berbagi singgasana. kata beda muncul dari harapan yang sirna bergabung dengan butiran debu jalanan yang selalu terbang melayang tanpa arah dengan iringan angin kuat nan menyayat. hati sepakat berhenti menjalani tumpukan hati yang mulai tumbeh bersemi dalam linangan yang belum terbentuk. aq beruntung dan tetap beruntung. kita tetap berbagi singgasana walau tanpa permaysuri.

Rabu, 27 Juni 2012

Senin, 25 Juni 2012

mentari picu hangat nan menjadi

petik dawai membangunkan rasa tawa yang menyenangkan karena ada perasaan bahagia yang sama. kelopak terbuka cahaya sang surya menrpa dengan pelan namun pasti. berthap namun memberi arti dalam hidup untuk pagi ini. semua strategi dan nyali dikumpulkan demi keteraturan hidup ku untuk hari ini. melihat hamparan luas dihiasi gumpalan putih indah dan menyejukan mata terasa aq yang telah mati serasa hidup kembali akan sinar surya yang membakar semangat sang ksatria. doa teriring sambil menutup kelopak dan berharap kebaikan datang silih berganti untuk kebahagiaan diri dan alam ini. selamat pagi. untuk para bidadari dan semua orang di bumi :)

menabur kasih nuai cabik nan menyayat

analogi kehidupan tak kan sama dengan mencoba menghidupkan.
perjalanan hidup menempuh jalan liku dan simpang yang selalu membawa kebimbangan. langkah gontai merasakan kerasnya hidup dari sudut pandang perasaan. kala cermin diri memantulkan rasa bias sang bidadari bukan berarti dia ada di dalam sanubari. terkadang insan yang pansan akan merasa sama bias dan nyata. ketakutan akan cabikan nyata hilang sirna seraya keelokan bias nan melenggok mempesona. inikah cinta? benar... itu cinta. apa kah itu cara melakukan cinta... benar.. itu caranya. apkah dimilik ku? benar ea milikmu tapi dalam angan mu. ahir tragis namun kau yang terbaik dari itu dan kau semakin baik setelah dicabik. bangkit dan bongkar. bangun dan berbagilah bahkan untuk sang penyabik.

gadis cantik berjari lentik

sebaris rasa terasing oleh keadaan jiwa akan masa yang melewati gerbang masa lalu.
merasakan indahnya pancaran sang surya, hembusan lembayu, dan kata terindah yang merantai hingga membentuk untaian kata sejuk nan menyejukan yang berbentuk dari gemulai jemari lentik kerasi sang pencipta. setiap untaian memberikan warna yang syahdu lebut namun tegas dan membekas. tanpa sadar sang kuat dari 5 saudara pembela besitan ramayana, terbawa arus fikiran dan perasaan yang bermuara pada satu titik kebijakasanaan. beriringan arus nan kencang dan keras membawa alam fikiran kearah alam sadar akan keadaan. aq takut akan kemelut yang menunggu dimuara itu. namun ak mengharap sang jemari lentik nan lembut ad didalam sanubari ini. bukannya aku takut akan tantangan itu aq hanya takut akan kesedihanmu. menambah beban mu, menambahkan derita mu. aq hanya akan menjadi pengawal hatimu dan melindungi semampuku tanpa ada yang tau atau sang jemari lentik sadar akan hal itu. penutup malam menyadarkanku. pergeseran jiwa telah beralih ke gadis cantik berjari lentik. good night. :)

Rabu, 13 Juni 2012

hanya pendapat


Berfikir untuk memikirkan(LUcu ItU Lah HiDup)

Selama ini yang ku tahu sebuah jenjang kedewasaan akan membawa kebijaksanaan. Tapi apakah demikian? Ada benarnya juga apabila ada orang beranggapan seperti itu. Dalam menjalani hidup, harus dimulai dengan niat yang baik dulu. Dan cara pandang yang baik pula. Hari ini tanggal, 12-6-2012 aq mempelajari sesuatu. Pola fikir dan perkembangan watak, tindakan dan semua yang mencerminkan kepribadian, itu di pengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Contoh, saya cenderung menjadi orang yang memikirkan sesuatu karena sebelumnya saya bukan seorang pemikir. Itu terjadi karena saya sering melakukan tindakan tanpa berfikir dan menimbang yang berbuntut kecewa…kecewa…kecewa… karena salah bertindak. Lucu.. tapi itu membentuk karakter saya.
Contoh lain, teman saya yang menurut saya sebelum ini orang yang peduli dengan orang lain, berusaha menjadi apatis. Lucu .. tapi itulah adanya… di perkirakan karena banyaknya orang menyalah gunakan kepribadian dia yang menurut saya baik. Ada pula menjadi orang yang kuat dan berkarakter karena latar belakang kehidupan keluarganya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh interaksi manusia yang menyebabkan pergeseran karakter karena keadaan, omongan, tindakan yang menyebabkan orang menjadikan dirinya sebagai objek tindakan pemikirannya.
Saya tidak berasumsi, berpendapat, menfonis, itu benar atau salah. Tapi menurut saya setiap tindakan dan perbuatan orang selalu ada alasan dan kepentingan dibalik itu. So.. jangan menganggap orang itu benar, orang itu salah atau apalah. Tapi berfikirlah dulu. Dalami karakter orang arahkan untuk menjadi individu yang memikirkan orang lain dan mempertimbangkan tindakan dengan kepentingan orang lain. Kedamaian milik kita, indahnya kebersamaan bila kita bersama dan saling mengerti. Untuk Indonesia dan dunia… salam damai..

TTD. Henri

Selasa, 27 Desember 2011

metode scene Setting dalam pembelajaran bahasa Indonesia

Dewasa ini pendidikan di indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan banyaknya cetusan-cetusan baru dengan membuat metode-metode dan pendekatan pembelajaran yang berorietasi pada siswa. Oleh sebab itu guru dituntut secara penuh untuk mengikuti perkembangan zaman dengan menerapkan berbagai macam metode dan pendekatan dalam pembelajaran yang mengaktifkan siswa secara penuh dan guru sebagai fasilitator dan sebagai motivator.
Dengan banyaknya metode pembelajaran dan pendekatan pembelajaran yang bisa diterapkan dengan orientasi pada peserta didik maka beiringan pula kualitas pembelajaran akan meningkat dan mutu pendidikan akan meningkat pula. Hanya saja dalam meningkatkan mutu pendidikan tidak terlepas pada peran pendidik yaitu guru. Menurut Ron Brandt (1993:12) mengemukakan bahwa hampir semua usaha Reformasi dibidang Pendidikan seperti pembaharuan kurikulum dan penerapan metode mengajar baru, pada akhirnya tergantung kepada guru.
Permasalahan yang saat ini dihadapi adalah sulitnya menerapkan metode dan pendekatan yang tersedia. Karena kecenderungan siswa sendiri yang kurang berminat melakukan pembelajaran. Menurut Dedi Supriyadi (2005:98) sebagian (besar) anak-anak SD datang Kesekolah dalam keadaann ridak siap untuk belajar. Secara kognitif mereka lemah, karena kurang mendapat rangsangan dan dibekali motivasi belajar dan sikap-sikap belajar yang mendukung proses belajar di sekolah. Oleh sebab itu terjadi kendala bagi guru untuk menerapakan metode pembelajaran dan pendekatan pembelajaran yang sesuai pada kegiatan pembelajaran Inti.
 Jadi untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran inti baik menggunakan pendekatan dan metode pembelajaran apapun, guru ditumtut harus dapat mengondisikan siswa untuk siap belajar dari kegiatan awal yang dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, semangat belajar siswa, dan dapat menimbulkan rasa penasaran yang tinggi sehingga dapat fokus pada pembelajaran inti.
 Selama ini sering sekali dijumpai kegiatan pembelajaran awal diisi dengan kegiatan seperti Appersepsi yaitu kegiatan pembelajaran Awal yang bertujuan menyiapkan siswa untuk siap belajar baik dengan menyapa peserta didik, menyanyi dan lain-lain. Kegiatan awal yang lain yang biasa ditemui adalah Warmer adalah suatu kegiatan awal yang mereview kegiatan pembelajaran sebelumnya dalam satu KD.
Dari kegiatan pembelajaran awal diatas guru dapat mengondisikan siswa untuk siap belajar. Hanya saja rasa penasaran dan ingin tahu siswa kurang terbentuk secara maksimal, oleh sebab itu dibutuhkan suatu kegiatan pembelajaran awal yang dapat menumbuhkan Rasa penasaran dalam diri siswa untuk mengetahui lebih dalam pembelajaran inti. Kegiatan pembelajaran awal yang dapat menumbuhkan rasa penasaran siswa dan sesuai adalah Scene Setting.
Scene Setting merupakan sebuah Stategi mengajar untuk membangkitkan dan rasa penasaran siswa , serta memberikan pengalaman belajar siswa sebelum masuk kemateri Inti. Menurut munif chatib dalam bukunya berjudul gurunya manusia beliau mengungkapkan proses belajar yang tidak di awali dengan kegiatan Awal maka proses belajar jelas tidak maksimal, dan akan menimbulkan down shifting pada Otak anak, karena tidak di refresh. Jadi pembelajaran yang maksimal adalah pembelajaran yang diawali dengan fokus kepada materi ajar dalam kondisi yang nyaman bagi siswa.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sangat dibutuhkan sebuah kegiatan pembelajaran Awal dalam semua kegiatan pembelajaran. Dalam karya tulis ini penulis lebih mengfokuskan pada pembelajaran Bahasa Indonesia.Pembelajaran bahasa mengarah pada peningkatan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan (Depdiknas,1995). Kompetensi pembelajaran bahasa diarahkan kedalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengar. Yang menuntut untuk siswa fokus secara penuh pada mata pelajaran oleh sebab itu guru dituntut untuk mengondisikan siswa untuk tetap fokus pada pembelajaran.
Untuk para pengajar mulailah untuk membuka paradigma anda anda untuk membuat siswa anda menjadi manusia yang haus akan pendidikan dan pelajaran anda berikan. terima kasih dan semoga sukses.

Tanggal 28 Desember 2011.

sedikit dedekan untuk menghadi esok hari sebuah kegiatan yang belum pernah aq lakukan sebenarnya. ngajuin judul. ya Allah beri hamba kemudahaan agar semuanya dapat berjalan lancar. amin ya Rabbalalamin.

METODE SCENE SETTING PEMBELAJARAN

Dalam meningkatkan mutu pendidikan di indonesia pada umumnya dan kalbar pada khususnya dapat dibangun pondasi awal pendidikan yaitu dengan meningkatkan kualitas tenaga pendidknya. menggunakan metode pembelajaran dan pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru. hanya saja pertanyaan untuk saat ini apakah semua metode dan pendekatan dalam pembelajaran dapat diterapkan begitu saja?

banyak hal yang dapat mendukukng apakah semua pendekatan dan metode pembelajaran dapat berjalan. tapi segala macam pendukung tidak terlepas dari kendala-kendala. salah satunya kesiapan siswa dalam melaksanakan pembaharuan dibidang pendidikan. kegiatan inti pembelajaran menentukan hasil sebuah mutu pendidikan dan kualitas pembelajaran. tapi yang tidak dapat dipisahkan adalah kegiatan sebelum kegiatan inti yaitu kegiatan awal.

melihat pembelajaran yang selama ini dilakukan, guru pada kegiatan awal biasanya hanya menerapkan appersepsi dan warmer saja. ini bagus hanya saja menurut penulis ini kurang maksimal perlu ditambah sebuah kegiatan yang dapat meningkatkan rasa penasaran siswa sebelum kegiatan inti pembelajaran yang Biasa disebut dengan metode scene setting.

pembahasan tentang Scene setting akan penulis paparkan pada artikel berikutnya.

terima kasih..!!

Minggu, 25 Desember 2011

kebahagiaanku.



tanggal 26 november 2011, kenangan terindah saat aq mengungkapkan perasaan ku untuk bidadari hati yaitu : RINI JANUARTI, malam itu aq merasa jadi orang yang sangat bahagia dirumah, eh salah didunia :P.

gw posting pertama kali tentang dia setelah 1 bulan jadia me bebeb gw ni. alana selama 1 bulan ni gw msh yakini hati gw dulu. tapi sekarang gua udah yakin me perasaan gw, GW SAYANG ME DIA. tapi sayangnya hari dia ngambek me gue, gara2 gue kagak bls sms die. emang salah gue, gara2 gua pengen posting tetang dia. tapi gak papa, moga aj bebeb gua ngambeknya gak lama. hehe

selama sebulan ini banyak banget yang udah kami lalui, yang masih membuatku ragu sama dia adalah masa lalunya. aq yakin banget dia masih sayang me mr.R. gw hanya pura2 tegar aj, benernya gua sedih banget, apa lagi masa lalunya temen akrab gua. 

gw sayang me kamu mbem..!! saat ini hanya kamu yang ada dihati ku, kepercayaan ku me kamu 99% yang satu persenya aq ragu alna kejadian yang kamu bikin status itu. aq yang jadi pacar kamu merasa terasingkan dihatimu. itu selalu menghantuiku. beibh tolong banget beri aq keyakinan agar 1 persen dari perasaan q bisa hilang dan menjadi 100%.  

I LOVE U MBEM>>!!

Kamis, 08 September 2011

entry new


Pendidikan Berbasis Pilar Bernegara
Marak dan meluasnya beragam aksi anarkisme dan radikalisme di republik ini dalam dekade terakhir berujung terhadap ancaman kedaulatan dan keutuhan negara kesatuan Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi mengingat bangsa yang sangat majemuk dan pluralis menggunakan berbagai cara bentuk kekerasan untuk menjawab segala persoalan bangsa. Tidak hanya itu, wadah separatisme untuk mendirikan suatu negara sendiri dan memecah-belah bangsa telah berdiri sedemikian rapi dan terorganisir. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Hilang dan memudarnya rasa kebangsaan dan bernegara kini tanpa disadari telah menghinggapi hampir sebagian besar rakyat kita. Bahkan, dengan segala daya dan upaya, ingin memisahkan diri dari negeri yang berdasarkan Pancasila tersebut. Sikap anarkisme dan radikalisme yang telah meresapi rakyat kita karena sesungguhnya telah tidak percaya lagi akan pila-pilar berbangsa dan bernegara yang merupakan modus vivindi (kesepakatan luhur) dari para pendiri negara.

Pilar-pilar tersebut antara lain, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Empat pilar bernegara tersebut tidak hanya mempunyai nilai historis, filosofi, moralitas, dan sosiologis dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini, melainkan juga sebagai fondasi atau penopang negara dari ancaman hilangnya kedaulatan dan runtuhnya nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang dikhawatirkan selama ini.

Pancasila sebagai pilar negara yang juga merupakan dasar dan ideologi negara dari awal kemerdekaan hingga kini masih utuh sebagai teks asli tanpa ada sedikit pun perubahan. Hal ini berdasarkan kesepakatan MPR yang sejak tahun 1999 melakukan perubahan UUD 1945 berpedoman kepada lima kesepakatan yang salah satunya tidak mengubah Pancasila. Sebab, apabila kita merubah Pancasila, sudah tentu juga kita merubah negara itu sendiri.

Secara filosofi bahwa Pancasila merupakan modus vivindi (kesepakatan luhur) bangsa Indonesia untuk hidup bersama dalam ikatan satu bangsa yang majemuk. Pancasila juga merupakan identitas diri dan pijakan melangkah untuk mencapai cita-cita bangsa dan tujuan negara. Terlebih lagi secara subtansial bahwa Pancasila dalam konteks negara bukan negara agama dan bukan negara sekuler.

Berdasarkan kesepakatan para pendiri negara, bahwa negara Pancasila bukan negara agama karena negara agama hanya berdasarkan diri pada satu agama tertentu, tetapi negara Pancasila juga bukan negara sekuler karena negara sekuler sama sekali tidak mau terlibat dalam urusan agama. Negara Pancasila merupakan negara religious nation state yakni sebuah negara kebangsaan yang religius dan melindungi serta memfasilitasi berkembangnya semua agama yang dipeluk oleh semua rakyatnya tanpa adanya pengecualian.

Pancasila selalu memuat beragam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila dalam konteks sebagai penuntun hukum yang berkeadilan sosial, maka hukum dalam suatu negara harus menciptakan keadilan sosial yakni hukum yang ditujukan untuk mempersempit kesenjangan antara yang kuat dan lemah dalam kehidupan sosial ekonomi. Kemudian hukum juga dalam negara Pancasila harus memuat segala aspek kemanfaatan yang berdasarkan nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat serta menjunjung tinggi nilai akhlak dan moralitas.

Menguatkan Pendidikan Pilar Bernegara

Setelah satu dekade lebih negara ini terlepas dari belenggu kediktatoran menuju negara alam berdemokrasi, pilar bernegara pun seakan telah dilupakan oleh sebagian besar rakyat ini. Hal ini suatu keniscayaan karena dalam perkembangannya banyak para pejabat negara dan pemerintahan negeri ini serta para pemuka agama, pimpinan organisasi, kalangan akademisi dan para aktivis/LSM hampir tidak pernah lagi mengutip Pancasila dalam penyampaian pendapat dan pandangannya. Sangat jelas bahwa tampak Pancasila seperti telah tenggelam dibawah permukaan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Sejak era reformasi bergulir, kata Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip dan dibahas, baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan dan kebangsaan serta kemasyarakatan maupun dalam dunia akademik. Padahal sejak awal kemerdekaan hingga sekarang, Pancasila tetap merupakan dasar negara dan ideologi negara. Pancasila tetap utuh sebagaimana sila-silanya dimuat dalam Pembukaan UUD 1945 tanpa ada perubahan sedikit pun.

Pancasila sebagaimana yang kita ketahui merupakan dasar negara yang menjadi rujukan dan landasan utama dalam penyelenggaraan negara, yang tercermin dalam bentuk bentuk antara lain visi, misi, kebijakan, program dan peraturan. Di sisi lain sebagai falsafah bangsa, Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia yang menjadi tolak ukur bagi sikap, perilaku dan pemikiran manusia serta masyarakat Indonesia dalam setiap aspek kehidupannya.

Terkait dengan kedudukan Pancasila sebagai falsafah bangsa, sebagian sikap, perkataan, dan perbuatan warga negara tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila, seperti religius, demokrasi, kemanusiaan, musyawarah, keadilan sosial, dan hak asasi manusia. Sebagai contoh antara lain masih maraknya terjadi korupsi dengan berbagai cara, hubungan bebas melanggar agama berkembang leluasa, pemaksaan kehendak oleh kelompok lebih kuat kepada pihak yang lebih lemah, jurang antara yang kaya dengan miskin yang masih sangat renggang, berbagai bentuk kejahatan dan kekerasan di masyarakat terus terjadi.

Kini, sudah saatnya jatidiri dan komitmen terhadap Pancasila modus vivindi ditegaskan kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Adapun untuk kembali memperkokoh nilai-nilai yang terkandung dalam pilar bernegara seperti Pancasila yakni dengan menguatkan pendidikan berbasis pilar bernegara di semua tingkatan dunia pendidikan negara kita. Penguatan pendidikan tersebut sesungguhnya merupakan suatu kebutuhan mendesak mengingat sebagian besar bangsa kita tengah dihinggapi oleh runtuh dan memudarnya nilai-nilai kebangsaan yang kian mengancam keutuhan negara.

Selayaknya kita menyadari bahwa Pancasila serta pilar bernegara lainnya merupakan sumber hukum, buku panduan serta kitab suci negara kita. Oleh sebabnya, sudah sepatutnya kita memperlakukan pilar bernegara dengan selalu merenungi dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan yang tumbuh di dalamnya. Pancasila juga dapat menjadi tameng dalam menjawab segala persoalan bangsa.

Hingga kini seakan kita lupa bahwa negeri kita terlalu sibuk mengoptimalkan berbagai macam pendidikan yang berbasis sains dan teknologi. Akibatnya, meskipun banyak bangsa kita yang berprestasi dalam segala kompetisi sains dan teknologi tingkat dunia, tetapi sesungguhnya mentalitas para anak bangsa tersebut tidak sesuai dengan semangat nasionalisme dan patriotisme yang diperjuangkan oleh para pendiri negara ini.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengajaran terhadap Pancasila serta pilar bernegara lainnya di dunia pendidikan kita. Padahal, dengan pengajaran terhadap pilar bernegara tersebut, niscaya akan dapat memperkokoh pembangunan karakter para anak bangsa. Karenanya di dalam pilar bernegara tersebut telah terkandung beragam karakter, semangat juang, cinta damai, toleransi, akhlak dan moralitas, religius, serta budaya jujur dan bersih untuk dapat diamalkan dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita berharap kedepannya dunia pendidikan kita dapat memberikan porsi lebih besar terhadap kurikulum pengajaran pilar-pilar bernegara tersebut, agar bangsa kita dapat menjadi bangsa yang berkarakter dan tidak terendus oleh paham sesat, anarkisme dan radikalime.***

Oleh : Andryan, SH.

Senin, 18 Juli 2011

8 KETERAMPILAN MENGAJAR UNTUK MEMBUAT PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN


Sabtu, 14 November 2009
8 KETERAMPILAN MENGAJAR UNTUK MEMBUAT PEMBELAJARAN YANG AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN
Disusun oleh sriudin (Sahrudin & Sri Iriani)
Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam pembelajaran , guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik dengan berbagai macam latar belakang, sikap, dan potensi, yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran. Misalnya masih banyak peserta didik kurang bernafsu untuk belajar dan membolos terutama pada mata pelajaran, dan guru yang menurut mereka sulit atau menyulitkan. Untuk kepentingan tersebut guru dituntut membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Karena motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan belajar dengan sungguh-sungguh.

Untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik, setiap guru sebaiknya memiliki rasa ingin tahu, mengapa dan bagaimana anak belajar dan menyesuaikan dirinya dengan kondisi-kondisi belajar dalam lingkungannya. Guru juga sebaiknya mampu untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan bagaimana menciptakan suatu pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, sehingga peserta didik termotivasi untuk mengikuti pelajaran di kelas.

Untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan diperlukan berbagai keterampilan, diantaranya keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil dan perorangan.

Setiap keterampilan mengajar memiliki komponen dan prinsip-prinsip dasar tersendiri. Keterampilan mengajar tersebut dan cara menggunakannya agar tercipta pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan adalah sebagai berikut:

A. Menggunakan keterampilan bertanya

Keterampilan bertanya sangat perlu untuk dikuasai oleh guru, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban peserta didik.

Keterampilan bertanya yang perlu dikuasai oleh guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.

1. Keterampilan bertanya dasar mencakup;

a. Pertanyaan yang jelas dan singkat,

b. Pemberian acuan yaitu sebelum mengajukan pertanyaan guru perlu memberikan acuan berupa penjelasan singkat yang berisi informasi yang sesuai dengan jawaban yang diharapkan,

c. Memusatkan perhatian; pertanyaan juga dapat digunakan untuk memusatkan perhatian peserta didik,

d. Memberi giliran dan menyebarkan pertanyaan; guru hendaknya berusaha agar semua peserta didik mendapat giliran dalam menjawab pertanyaan, dan yang lebih penting adalah memberikan kesempatan berpikir kepada peserta didik sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan.

2. Keterampilan bertanya lanjutan meliputi;

a. Pengubahan tuntunan tingkat kognitif yaitu guru hendaknya mampu mengubah pertanyaan dari hanya sekadar mengingat fakta menuju pertanyaan aspek kognitif lain seperti penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi,

b. Pengaturan urutan pertanyaan yaitu pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari yang sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan,

c. Peningkatan terjadinya interaksi yaitu guru hendaknya menjadi dinding pemantul. Jika ada peserta didik yang bertanya, guru tidak menjawab secara langsung, tetapi dilontarkan kembali ke seluruh peserta didik untuk didiskusikan.

B. Memberi penguatan

Penguatan merupakan respons terhadap suatu perilaku yang dapat menimbulkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal berupa kata-kata dan kalimat pujian dan secara non verbal yang dilakukan dengan gerakan mendekati peserta didik dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan bertujuan untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar dan membina perilaku yang produktif.

C. Mengadakan variasi

Mengadakan variasi merupakan keterampilan yang harus dikuasai guru dalam pembelajaran untuk mengatasi kebosanan peserta didik, agar selalu antusias, tekun , dan penuh partisipasi. Variasi dalam kegiatan pembelajaran meliputi;

1. Variasi dalam gaya mengajar misalnya variasi suara, gerakan badan dan mimik, mengubah posisi, dan mengadakan kontak pandang dengan peserta didik.

2. Variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar misalnya variasi alat dan bahan yang dapat dilihat, penggunaan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar.

3. Variasi dalam pola interaksi misalnya dalam mengelompokkan peserta didik, tempat kegiatan pembelajaran, dan dalam pengorganisasian pesan ( deduktif dan induktif).

D. Menjelaskan

Penggunaan penjelasan dalam pembelajaran memiliki beberapa komponen yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Perencanaan meliputi isi pesan yang akan disampaikan harus sistematis dan mudah dipahami oleh peserta didik dan dalam memberikan penjelasan harus mempertimbangkan kemampuan dan pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik.

2. Penyajian dapat menggunakan pola induktif yaitu memberikan contoh terlebih dahulu kemudian menarik kesimpulan umum dan pola deduktif yaitu hukum atau rumus dikemukakan lebih dahulu lalu diberi contoh untuk memperjelas rumus dan hukum yang telah dikemukakan.

E. Membuka dan menutup pelajaran

Membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan secara profesional akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pembelajaran. Membuka pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya pada pelajaran yang akan disajikan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah:

1. Menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan disajikan.

2. Menyampaikan tujuan (kompetensi dasar) yang akan dicapai.

3. Menyampaikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan tugas-tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

4. Mendayagunakan media dan sumber belajar yang sesuai dengan materi yang akan disajikan.

5. Mengajukan pertanyaan, baik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap pelajaran yang telah lalu maupun untuk menjajaki kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari.

Menutup pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui pencapai tujuan dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari serta mengakhiri kegiatan pembelajaran. Untuk menutup pelajaran kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan adalah:

1. Menarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari (kesimpulan bisa dilakukan oleh guru, oleh peserta didik, atau permintaan guru, atau oleh peserta didik bersama guru).

2. Mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan dan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

3. Menyampaikan bahan-bahan pendalaman yang harus dipelajari dan tugas-tugas yang harus dikerjakan (baik tugas individu maupun tugas kelompok) sesuai dengan materi yang telah dipelajari.

4. Memberikan post tes baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan.

F. Membimbing diskusi kelompok kecil

Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru agar diskusi kelompok kecil dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran adalah:

1. Pembentukan kelompok secara tepat

2. Memberikan topik yang sesuai

3. Pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.

G. Mengelola kelas

Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah; kehangatan dan keantusiasan, tantangan, bervariasi, luwes, penekanan pada hal-hal positif, dan penanaman disiplin diri.

Keterampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut:

1. Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal

a. Menunjukkan sikap tanggap dengan cara; memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberi reaksi terhadap gangguan di kelas.

b. Memberi petunjuk yang jelas.

c. Memberi teguran secara bijaksana.

d. Memberi penguatan ketika diperlukan.

2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal

a. Modifikasi perilaku yaitu mengajarkan perilaku yang baru dengan contoh dan pembiasaan, meningkatkan perilaku yang baik dengan penguatan, dan mengurangi perilaku buruk dengan hukuman.

b. Pengelolaan kelompok dengan cara; peningkatan kerja sama dan keterlibatan, menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul.

c. Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah, misalnya mengawasi secara ketat, mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya, menjauhkan benda-benda yang dapat mengganggu konsentrasi, dan menghilangkan ketegangan dengan humor.

H. Mengajar kelompok kecil dan perorangan

Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.

Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan:

1. Mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian, dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian tugas.

2. Membimbing dan memudahkan belajar, yang mencakup penguatan, proses awal, supervisi, dan interaksi pembelajaran.

3. Pemberain tugas yang jelas, menantang dan menarik.

Untuk melakukan pembelajaran perorangan perlu diperhatikan kemampuan dan kematangan berpikir peserta didik agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima oleh peserta didik.

Selain beberapa komponen keterampilan mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, guru juga harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan memposisikan diri sebagai berikut;

1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.

2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.

3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai dengan minat, kemampuan, dan bakatnya.

4. Pemberi sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.

5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab kepada peserta didik.

6. Membiasakan peserta didik untuk saling bersilaturrahmi dengan orang lain.

7. Mengembangkan kreativitas peserta didik.

Dengan memiliki beberapa keterampilan mengajar yang telah diuraikan di atas diharapkan guru tidak lagi menjadi figur yang menakutkan bagi peserta didiknya, sehingga peserta didik akan senantiasa memiliki perasaan yang nyaman jika berada dalam proses pembelajaran dan akan senantiasa memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti pembelajaran.

Rabu, 29 Juni 2011

media pembelajaran

Media Pembelajaran

ImagePengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11). Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).

Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain :



a. kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)

b. faktor ukuran (size); besar atau kecil

c. faktor warna (color): hitam putih atau berwarna

d. faktor gerak: diam atau bergerak

e. faktor bahasa: tertulis atau lisan

f. faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan antara gambar dan suara.

Selain itu, Jerold Kemp dan Diane K. Dayton (dalam Pribadi,2004:1.5) mengemukakan klasifikasi jenis media sebagai berikut :

a. media cetak

b. media yang dipamerkan (displayed media)

c. overhead transparancy

d. rekaman suara

e. slide suara dan film strip

f. presentasi multi gambar

g. video dan film

h. pembelajaran berbasis komputer (computer based learning)

Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). Pesan (informasi) yang disampaikan melalui media, dalam bentuk isi atau materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (anak didik), dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera mereka. Bahkan lebih baik lagi bila seluruh alat indera yang dimiliki mampu dapat menerima isi pesan yang disampaikan (Latuheru,1988:13).

Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata-kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.

Dari beberapa penjelasan media pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk memudahkan penerima pesan menerima suatu konsep.

B. Fungsi dan Peranan Media Pembelajaran

Kehadiran media pembelajaran sebagai media antara guru sebagai pengirim informasi dan penerima informasi harus komunikatif, khususnya untuk obyek secara visualisasi. Dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, khusunya konsep yang berkaitan dengan alam semesta lebih banyak menonjol visualnya, sehingga apabila seseorang hanya mengetahui kata yang mewakili suatu obyek, tetapi tidak mengetahui obyeknya disebut verbalisme. Masing-masing media mempunyai keistimewaan menurut karakteristik siswa. Pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik siswa akan lebih membantu keberhasilan pengajar dalam pembelajaran. Secara rinci fungsi media memungkinkan siswa menyaksikan obyek yang ada tetapi sulit untuk dilihat dengan kasat mata melalui perantaraan gambar, potret, slide, dan sejenisnya mengakibatkan siswa memperoleh gambaran yang nyata (Degeng,1999:19).

Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

1. Fiksatif (fixative property)

Media pembelajaran mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa/objek.

2. Manipulatif (manipulatif property)

Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.

3. Distributif (distributive property)

Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu.

Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa fungsi dari media pembelajaran yaitu media yang mampu menampilkan serangkaian peristiwa secara nyata terjadi dalam waktu lama dan dapat disajikan dalam waktu singkat dan suatu peristiwa yang digambarkan harus mampu mentransfer keadaan sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan adanya verbalisme.

Proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik jika siswa berinteraksi dengan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan siswa. Siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale (dalam Sadiman, dkk,2003:7-8) dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagai contoh yaitu media pembelajaran komputer interaktif.

C. Teori Pengembangan Media

Berkembangnya komunikasi elektronik, membawa perubahan-perubahan besar dalam dunia pendidikan. Satu hal yang harus dihindari yaitu anggapan bahwa kedudukan guru akan digantikan oleh alat elektronik. Dengan keberadaan komunikasi elektronik, menambah pentingnya kehadiran guru. Berubahnya fungsi guru dan peranan guru dikaitkan dengan upaya untuk memecahkan salah satu masalah pendidikan yaitu, (1) dengan membebaskan guru kelas dari kegiatan rutin yang banyak, (2) melengkapi guru dengan teknik-teknik keterampilan kualitas yang paling tinggi, (3) pengembangan penyajian kelas dengan tekanan pada pelayanan perorangan semaksimal mungkin dalam setiap mata pelajaran, (4) mengembangkan pengajaran yang terpilih didasarkan pada kemampuan individual siswa. Dari penjelasan diatas tentang peran baru guru dalam dunia pendidikan diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan, sehingga penggunaan berbagai macam media pembelajaran akan menggantikan berberapa fungsi instruksional dari guru (Sulaeman, 1988:24-25).

Pengembangan media pembelajaran didasarkan pada 3 model pengembangan yaitu model prosedural, model konseptual, dan model teoritik. Model prosedural merupakan model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Model konseptual yaitu model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen. Sedangkan model teoritik adalah model yang menunjukkan hubungan perubahan antar peristiwa.

Berdasarkan hal yang dikemukan diatas, pengembangan media berbantuan komputer interaktif yang dikembangkan mengikuti model prosedural dari The ASSURE, dimana langkah yang harus diikuti bersifat deskriptif yang terdiri dari 6 langkah yaitu analisis karakteristik siswa, penetapan tujuan, pemilihan media dan materi, pemanfaatan materi, pengikutsertaan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, evaluasi/revisi. Sedangkan model konseptual dari pengembangan media berbantuan komputer ini mengikuti teori belajar behavior yang dikemukakan oleh Gagne yaitu belajar yang dilakukan manusia dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuan, atau mengubah kelakuannya (Nasution, 1988: 131), sehingga media pembelajaran yang dikembangkan berdasar pada “Programmed Instruction”. Sehubungan dengan penggunaan “Programmed Instruction”sebagai konsep media yang dikembangkan, maka teori belajar yang sesuai dengan karakter dari “Programmed Instruction” adalah teori belajar asosiasi, menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan tersebut akan semakin kuat apabila sering diulangi dan respon yang benar diberi pujian atau cara lain yang memberikan rasa puas dan senang (Nasution, 1988: 132).

Jumat, 17 Juni 2011

pembangunan bangsa

Sajak Pertemuan Mahasiswa
Oleh : W.S. Rendra

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana !

Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaja.

kutipan gersang seorang pendidik

Kisah Pak Joko: Lembaran Hitam Perjuangan Seorang Guru

REP | 24 April 2010 | 23:21 via Mobile Web 233 6 2 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat
Ini adalah kisah lama yang tiba-tiba teringat ketika suatu malam yang larut, sebuah kisah yang tragis bagi seorang perantau.
Tahun 1995, saya melanjutkan pendidikan sekolah menengah umum di Maluku Utara, jarak yang sangat jauh tentunya dari Makassar. Tapi apa boleh buat, demi mencapai sebuah cita-cita, bocah yang tak berdaya ini mesti dititipkan kepada pamannya, nun jauh di sana, di kecamatan Bacan Maluku Utara.
Kultur budaya Maluku sedikit demi sedikit mengkondisikan diriku kala itu, walau sedikit ‘ keras’ , tapi kulturasi budaya yang beragam oleh pendatang membuat lingkungan yang saya hadapi begitu berwarna, tentu penuh dengan kisah-kisah menarik.
Di SMUku saya bersahabat dengan ketua osis, seorang yang pintar dan peduli. Selain beberapa kawan, saya juga menjalin interaksi dengan beberapa guru di luar sekolah, dalam artian bisa istilahkan dekat secara personal dan bersahabat.
Tahun 1996, Pak Joko, guru matematika yang pendiam itu terserang penyakit hepatitis. Dia datang ke maluku Utara sebatang kara sebagai guru. Demi tugas menjalankan tugas berangkat sendiri dari desa yang jauh di jawa timur.
Pak Joko adalah sosok yang guru pendiam, dia tak banyak bicara tetapi lebih banyak senyum, selalu pada setiap siswanya, dan siapa saja. Pribadi ini sangat favorit di kalangan kami yang aktif di ekstra sekolah, terutama ketika belajar kelompok,karena tak jarang beliau bersedia meluangkan waktunya menjelaskan mata pelajaran yang belum kami mengerti.
Pernah suatu ketika, kami menyuruh beliau menghentikan penjelasan matematikanya yang lugas, waktu itu mata beliau begitu kuning, pertanda sakit yang dia derita belum meninggalkan tubuhnya.
Tubuh pak joko, guru kami itu semakin hari semakin kurus, sudah terlalu sering dia bolak-balik puskesmas yang hanya di layani oleh seorang perawat, tak ada dokter. Pelayanan kesehatan di tempat ini sangat terbatas.
Keluarga beliau saat itu mungkin tak mengira, juga pak joko sendiri, jika penyakit hepatitis itu adalah penyakit yang berat. Di tempat kost pak Joko kerap kami jenguk. Sebuah kamar yang sederhana, di dalamnya bergelimpanagan buku-buku mata pelajaran, beberapa lembar pakaian tersusun dilipat pada rak kayu, juga meja dan kursi yang dipenuhi oleh lembar-lembar kertas hasil ulangan harian siswa-siswinya.
***
Di atas kapal kayu, deru mesin baling-baling berputar menghasilkan kekuatan dorong, kapal itu berangkat ke ternate. Malam itu juga.
Muhammad Ardani, kawanku. Ketua Osis kami mengantar sendiri pak Joko. Niatnya akan berobat ke ibu kota Ternate, mungkin di sana pak Joko akan menuai kesembuhan setelah beberapa bulan beliau masih saja bertahan dengan tubuhnya yang kerap lemas, juga kelopak mata yang semakin cekung.
Ardani, berkisah. Kawanku ini tak segan-segan memangku pak Joko, guru kami, ketika di atas kapal kayu itu pak Joko tak mampu lagi untuk duduk, walau sekedar untuk buang air. Di atas kapal yang diterpa gelombang tengah malam itu, tubuh guru dan murid itu berjibaku melawan waktu, demi sebuah harapan kesembuhan.
***
Hari itu, kami saling menatap satu sama lain dengan jiwa yang diam, tak ada yang banyak bicara. Ruang-ruang kelas kami tiba-tiba menjadi sebuah saksi akan adanya harapan yang tak sampai, hilang secara tiba-tiba.
Tak ada yang tahu secara detail seperti apa wajah anak tunggal dan istri guruku tercinta, pak Joko. Ketika dengan telegram itu mereka mengetahui bahwa Pak Joko ketika subuh hari masih di atas kapal, beliau menghembuskan nafas yang terkahir.
kawanku pulang dengan wajah yang pucat, demikian juga kami yang menunggu. Membayangkan wajah guru kami ini, hati kami akan terasa amat sedih, air mata kami telah kering sejak kabar itu hinggap di telinga.
Tahun 1998 saya meninggalkan Maluku Utara, sudah sejak lama beberapa kisah ingin kutulis, dan salah satunya kisah ini.
Pak Joko, Guru kami yang perantau.
Dirimu yang tulus telah terpatri pada jiwa kami siswamu, juga pada hati setiap anak didik yang paham pengorbananmu.
sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/24/kisah-pak-joko-lembaran-hitam-perjuangan-seorang-guru/

Rabu, 15 Juni 2011

pembelajaran kontekstual

Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal siswa.Untuk itu diperlukan suatau pendekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (CTL).
CTL dikembangkan oleh The Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga  yang bergerak dalam dunai pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui Direktorat SLTP Depdiknas
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menhadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk meggapinya.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan trategi daripada memberi informasi. Guru hanya megelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa . 2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. 3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual. 4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka. 5) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya.
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
  1. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
  2. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
  3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
  4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
  5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.
Menurut Blanchard, ciri-ciri kontekstual: 1) Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah. 2) Kegiatan belajar dilakukan dalam  berbagai konteks 3) Kegiatan belajar dipantau dan diarahkan  agar siswa dapat belajar mandiri. 4) Mendorong siswa untuk belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri. 5) Pelajaran menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda. 6) Menggunakan penilaian otentik
Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic). Adapaun tujuh komponen tersebut sebagai berikut:

  1. Konstruktivisme (constructivism)
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya.

  1. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).

  1. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, 8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

  1. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.

  1. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.

  1. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.
  1. Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assessment)
Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.

pendidikan

Pendidikan Karakter

  1. pendidikan karakter Pendidikan KarakterPersoalan real yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana membentuk karakter bangsa (Nation Character Building). Bagaimana Nilai-nilai budaya banagsa yang telah mengakar kuat berhadapan dengan pusaran arus globalisasi yang demikian mengancam. Bagaimanapun juga khazanah keragaman budaya dan heterogenitas masyarakat Indonesia, di satu sisi merupakan keistimewaan namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran. Dalam diskursus pendidikan, hal tersebut harus dibahas, dan tidak dapat diabaikan begitu saja.
    Abd.Rachman Assegaf, mengemukakan bahwa: Diskursus pendidikan bukanlah merupakan suatu entitas yang berdiri sendiri, melainkan dikelilingi oleh entitas lain yang saling bersinergi. Problema sosial, politik, budaya, hukum, falsafah, ekonomi dan lain-lain merupakan entitas di luar pendidikan yang memiliki pengaruh interkonektif cukup intens terhadap pendidikan. (Mustofa Rembangy, Pendidikan Transformatif, Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta: Teras, 2008, h.xxiii)
    Dari sisi yang berbeda walau dengan perspektif yang sama dikemukakan oleh Suyanto bahwa icon biggrin Pendidikan Karakter i era global seperti saat ini dan masa yang akan datang, penguasaan teknologi informasi menjadi sangat penting bagi eksistensi suatu bangsa. Oleh karena itu, dilihat dari aspek pendidikan, era global berdampak pada cepat usangnya hardware dan software bidang pendidikan. Dengan demikian, sektor pendidikan harus diberdayakan setiap saat.(Suyanto, Dinamika Pendidikan Nasional Dalam Percaturan Global Dunia, Jakarta, PSAP Muhammadiyah, 2006, h. 15)
    Dari dua pandangan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan penting, bahwa di era globalisasi, pendidikan dan semua anasir-anasirnya, terutama kebudayaan, harus selalu berhubungan secara sinergis, dan untuk mencapai harmonisasi tersebut dibutuhkan penguasaan teknologi informasi yang up to date.
    Karena itu, fenomena multikulutralisme harus menjadi perhatian kebijakan pendidikan di Indonesia. Bahkan disebutkan bahwa upaya menggagas pendidikan yang berbasis multikulturalisme menjadi signifikan.
  2. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

    Inovasi pendidikan dalam rangka Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kebutuhan pendidikan yang sangat mendesak. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam Pengertian Implementasi kurikulum itu sendiri mengandung makna pelaksanaan kurikulum dalam arti yang seluas-luasnya meliputi, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kurikulum.
    Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dewasa ini seharusnya sudah dapat dievaluasi tingkat keberhasilan, kelebihan serta kekurangannya. Setelah KTSP ini berjalan sejak tahun 2006, tentu telah dapat diukur bagaimana implementasi kurikulum KTSP yang telah berjalan.
    Karena itu, para kepala sekolah, guru, dan semua stakeholder pendidikan memberikan perhatian yang serius terhadap pelaksanaan kurikulum sehingga kurikulum ini benar-benar dapat diandalkan mewujudkan tujuan pendidikan yang dicita-citakan.
  3. Implementsi Kurikulum: Dedikasi dan Tanggung Jawab Guru

    Istilah Implementasi kurikulum pada dasarnya tidak hanya bermakna melaksanakan isi kurikulum sebagaimana yang tersurat dalam rumusan kurikulum, tetapi implementasi kurikulum sesungguhnya mencakup seluruh aspek dari setiap upaya guru di dalam melaksanakan kurikulum dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. “Implementasi kurikulum” harus dimaknai sebagai upaya yang bersifat komprehensip dalam kaitannya dengan mencapai tujuan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya.
    Jika seorang guru hanya memaknai implementasi kurikulum dalam kaitannya dengan menunaikan kewajiban mengajar di dalam kelas semata, maka pendidikan akan kehilangan makna dalam arti yang sesungguhnya. Hasil pendidikan akan sangat terbatas pada ranah yang sempit. Implementasi kurikulum yang demikian, hanya “sukses” menjadikan para peserta didik menguasai materi pelajaran saja. Di pihak lain, implementasi kurikulum gagal mencapai ranah-ranah lain yang sesungguhnya tidak boleh dipisahkan satu dengan lainnya.
    Pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum yang sempit menghasilkan pendidikan yang pincang. out put pendidikan hanya mencerminkan keberhasilan yang bertumpu pada “kecerdasan intelektual” semata. Akibatnya wajah pendidikan kita tidak menunjukkan suatu kondisi yang equilibrium antara ranah kognisi, afeksi dan psikomotorik pada diri peserta didik. Jika anda mencoba menganalisis situasi pendidikan kita sekarang…boleh jadi anda sependapat dengan saya. Karena itu, yang dibutuhkan dari guru adalah dedikasi dan tanggung jawab “moral” nya terhadap implementasi kurikulum yang equilibrium.
  4. Beberapa Landasan Pendidikan (3)

    Landasan Sosiologis dalam Pendidikan
    Pendidikan berlangsung dalam pergaulan antara pendidik dengan anak didik. Dapatnya anak didik bergaul karena memang; baik pendidik maupun anak didik adalah merupakan makhluk sosial,yaitu makhluk yang selalu saling berintegrasi, saling tolong menolong, salin gingin maju, ingin berkumpul, ingin menyesuaikan diri, hidup dalam kebersamaan dan lain sebagainya.
    Sifat sebagai makhluk sosial sudah dimiliki sejak bayi, dan tampaknya merupakan potensi yang dibawa sejaklahir. Bahwa manusia merupakan makhluk sosial karena beberapa faktor berikut:
    a. Sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya
    b. Sifat adaptability dan intelegensi
    Dengan demikian, manusia sebagai makhluk sosial, menjadikan sosiologi sebagai


    pixel Beberapa Landasan Pendidikan (3)

pejuang kampus

pejuang kampus

lakers

lakers
tim favorite